Kenapa Orang Jepang Malas Menikah? Ternyata Ini Jawabannya

Nikah? Hmmm, cuma bisa senyum aja deh. Memang sih pernikahan itu adalah momen yang sangat indah dan banyak diimpikan oleh semua orang. Makanya banyak orang yang buru-buru untuk menikah, akan tetapi hal ini tidak berlaku di negara Jepang. Kira-kira cerita apa lagi ya yang ada di Jepang ini? Penasaran? Yuk kita simak bareng-bareng.

Sesuatu Yang Sia-Sia Di Jepang

Pernikahan termasuk hal yang didambakan sebagian besar masyarakat Indonesia. Ini berangkat juga dari mayoritas agama di Indonesia yang notabene adalah Islam. Pernikahan dalam Islam dipandang sebagai fitrah bagi manusia. Bahkan menikah menjadi kewajiban muslim ketika sudah mampu secara fisik, batin maupun finansial, karena pernikahan memiliki beberapa manfaat seperti menjaga kelangsungan hidup manusia, menghindarkan dari segala penyakit akibat seks bebas dan menjaga ketenteraman jiwa. Tapi siapa sangka, di beberapa negara salah satunya Jepang, menikah justru dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia dan dihindari sebagian besar orang. Bahkan rata-rata orang Jepang baru mau menikah ketika usianya 40 tahun ke atas. Sementara di Indonesia, kebanyakan para orangtua justru sudah ‘mengejar-ngejar’ anaknya yang usianya di atas 25 tahun untuk segera menikah.

“Benar sekali anak muda Jepang saat ini malas atau enggan untuk menikah, baik laki maupun wanita. Yang lelaki tampaknya seperti ingin menjadikan wanita seperti pet (Binatang Peliharaan). Sementara wanita yang punya perasaan dan punya segalanya, tak menikah pun bisa merasa kuat berdiri sendiri, hidup sendiri,” kata papar Ai Aoyama (53) Penasehat seks Jepang terkenal.

Aoyama melihat mungkin anak muda Jepang perlu diubah pola pikirnya, “Mereka perlu diubah pola pikirnya. Kalau anak dianggap sebagai beban mungkin bisa diubah seperti orang Indonesia, bahwa anak justru berkah dari Tuhan sehingga punya anak tidak seperti terbebani tetapi malah jadi suatu kebahagiaan. Ide yang baik itu,” lanjutnya.

Alasan Malas Menikah

Ternyata alasan kenapa pria Jepang lebih memilih tidak menikah dulu adalah karena mereka masih khawatir terhadap kondisi ekonomi dan pekerjaan mereka, sehingga ketakutan akan ketidakmampuan menghidupi keluarga muncul menghantui. Tapi di satu sisi, ternyata lelaki Jepang sangat bertanggung jawab. Dibandingkan di Indonesia, masih banyak kita jumpai suami yang tidak punya pekerjaan tetap sehingga kehidupan keluarganya terlunta-lunta. Sedangkan wanita Jepang memandang pria ideal yang bisa dinikahi adalah pria dengan penghasilan lebih dari 460 ribu yen per bulan atau sekitar 46 juta rupiah. Hal ini bukan tanpa alasan atau karena wanita Jepang memang matre ya. Biaya hidup di Jepang itu tinggi, angka tersebut menjadi pendapatan rata-rata di Jepang jika suami-istri bekerja semua.

Untuk wanita Jepang, alasan mereka lebih banyak seputar ketakutan tidak mendapat kebebasan ketika sudah menikah. Jadi karier masih menjadi prioritas bagi sebagian besar wanita Jepang. Karena para pria rata-rata tidak menginginkan istrinya bekerja penuh waktu (full-time) karena harus mengurus keperluan rumah tangga. Sedangkan wanita Jepang merasa tidak memiliki karier jika harus bekerja hanya paruh waktu (part-time). Berdasarkan data survei, ditemukan juga bahwa penghasilan rata-rata lulusan S1 di Jepang sebesar 200 ribu yen per bulan atau sekitar 20 juta rupiah, sementara untuk lulusan S2 adalah sekitar 220 ribu yen dan S3 sekitar 300 ribu yen. Uang tersebut hanya cukup jika mereka hidup sendiri untuk biaya apartemen, listrik, internet, pajak dan lain-lain.

Keengganan menikah juga dihantui pikiran takut memiliki anak karena biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan menjadi bertambah. Dilihat dari rata-rata penghasilan di atas dan kenyataan biaya pendidikan anak di Jepang saja sudah bikin geleng-geleng kepala. Memang sih sekolah dasar di Jepang tidak dipungut biaya. Akan tetapi ketika memasuki usia SMP dan SMA, anak-anak di Jepang sudah mulai dituntut untuk ikut kursus tambahan seperti olahraga, musik atau seni lainnya yang biayanya relatif mahal. Apalagi masuk perguruan tinggi, biayanya semakin mencekik.

“Kedua orang baik laki-laki maupun perempuan punya dunia sendiri, masing-masing dan merasa suduh cukup senang hidup sendiri. Kalau bersama malah mungkin tambah repot dan apalagi kalau punya anak terasa menjadi beban, banyak biaya dan kesusahan lain. Itulah yang ada di pikiran anak muda Jepang sekarang sehingga malas menikah, apalagi punya anak,” papar Ai Aoyama.

Jepang Mengalami Krisis Demografi

Jika saat ini Indonesia merasa beruntung karena bonus demografi yang sedang terjadi, maka untuk Jepang hal yang sebaliknya sedang terjadi. Jepang sedang mengalami krisis demografi karena data penduduknya sudah berbentuk piramida terbalik alias didominasi oleh orang tua dalam rentang usia tidak produktif. Jika kebetulan sedang jalan-jalan di Jepang, maka akan mudah kita temui para manula tersebut di tempat-tempat umum, karena memang angka harapan hidup di Jepang cukup tinggi, untuk laki-laki 82 tahun dan perempuan 86 tahun.

Akan tetapi tidak hanya angka harapan hidup yang tinggi yang membuat Jepang krisis kependudukan, hal lain yang menjadi penyebabnya adalah keengganan orang Jepang menikah. Sudah menjadi rahasia umum jika orang Jepang enggan menikah, apalagi memiliki anak.

Beberapa waktu yang lalu sebuah perusahaan Jepang yang merupakan bagian dari Rakuten group melaksanakan survey kepada laki-laki dan perempuan lajang usia 25-39 tentang keinginan mereka untuk menikah. Pada pertanyaan kenapa mereka tidak menikah, jawaban yang paling umum dari laki-laki dan perempuan adalah karena mereka tidak memiliki kesempatan bertemu dengan lawan jenis.

Ternyata mencari pasangan hidup di Jepang susah, mungkin karena setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja, waktu mereka habis untuk bekerja. Bahkan beberapa orang Jepang menganggap kerja adalah tujuan hidup sehingga banyak yang menjadi workaholics. Tetapi setelah beberapa saat tinggal di Jepang memang benar, hidup mereka hanya untuk kerja jadi wajar sulit memperoleh jodoh.

Nah, itu dia alasan kenapa orang Jepang malas untuk menikah, sungguh miris ya. Sekarang menurut kamu gimana, kamu lebih milih tinggal di Jepang atau di Indonesia? Tentukan pilihanmu…